Halaman

Abu Nawas dan Kisah Raja Harun dan Telur Unta

Suatu hari Raja Harun Al Rasyid terkena penyakit yang sangat aneh. Tubuhnya terasa kaku dan pegal semua. Suhu badannya panas dan dia tak kuat untuk melangkah. Keadaan ini membuat sang raja tak nafsu makan sehingga sakitnya bertambah parah. Bermacam tabib sudah pada berdatangan untuk mengubatinya, namun tetap saja masih sakit.

Namun raja tak mau menyerah begitu saja. Tekadnya untuk sembuh sangatlah besar. Raja pun akhirnya membuat sayembara, barang siapa dapat menyembuhkan raja, maka dia akan mendapat hadiah. Berita sayembara itu pun didengar oleh Abu Nawas, dan ia pun tertarik untuk mengikuti sayembara itu.

Maka, tak berapa lama kenudian, ia pun berfikir kersa, memutar otak sebentar, kemudian pergi ke istana dan menghadap Raja Harun Al Rasyid.

Sang raja sangat terkejut begitu melihat Abunawas dan menawarkan diri untuk merawat.
"Wahai Abu Nawas, setahu kamu itu bukan seorang tabib, tetapi mengapa engkau mengikuti sayembara ini?" tanya sang raja heran.

Mendengar ucapan rajanya, Abu Nawas hanya tersenyum saja. Dia berjaya meyakinkan raja bahawa dia emiliki kemampuan untuk menyemnbuhkan orang yang sakit. Pada awalnya sih sang raja tidak percaya akan penjelasan Abu Nawas tersebut. Namun bukan Abu Nawas kalau dia tidak boleh meyakinkan lawan bicaranya.

Kemudian Abu Nawas mulai mengadakan pemerhatian dengan menanyakan sakit dan keadaan raja.
"Aku juga tidak tahu, tetapi aku merasa bahawa rasanya seluruh tubuhku terasa sakit dan badanku panas. Aku merasa lesu," keluh raja.

Mendengar keluhan raja itu, Abu Nawas sontak saja tertawa lebar.
Tentu saja Sang Raja tersinggung oleh olokan Abu Nawas itu.
"Tidak Paduka, kalau penyakit seperti itu sih gampang sekali mencari ubatnya," jelas Abu Nawas.

Raja pun kaget dan menanyakan nama ubat dan di mana raja boleh memperolehnya.
"Dadah itu adalah telur unta, Paduka Raja boleh mendapatkannya di bandar Baghdad," jelas Abu Nawas.

Sang Raja yang kepingin cepat sembuh ini sangatlah bersemangat sekali. Pada keesokan harinya, Raja mencari ubat tersebut dengan ditemani oleh pengawal dengan memakai busana rakyat biasa agar tidak dikenali oleh rakyatnya. Dia pun engunjungi hampir seluruh pasaran yang ada di kota Baghdad.

Namun mereka tidak kunjung juga mencari telur unta yang dicarinya. Raja pun tetap mengelilingi bandar walaupun pengawal sudah kelihatan kelelhan yang amat sangat. Sang Raja tampak merungut sambil merancang memberikan hukuman kepada Abu Nawas jika ia tak boleh mencari ubat itu.

Sebelum kembali ke istananya, raja melihat seorang datuk yang membawa ranting.
"Tunggu Kek, bolehkah saya bertanya sesuatu?" cegat Raja Harun.

Selepas bersemuka, raja merasa kasihan melihat datuk itu dan menawarkan diri untuk membawakan kayu-kayu tersebut sampai ke rumah datuk. Setelah sampai rumah dan berbasa-basi sejenak, raja pun menanyakan tentang telur unta kepada datuk itu.
"Telur unta?" si datuk kemudian berfikir sejenak lalu tertawa lebar.

Si datuk menjelaskan bahawa di dunia ini mana ada telur unta. Setiap haiwan yang mempunyai daun telinga itu melahirkan, bukan bertelur, jadi mana ada telur unta. Raja dan pengawal tersentak kaget mendengar penjelasan datuk itu. Raja sangat murka dan merasa dirinya telah dipermainkan oleh Abu Nawas.

Pada keesokan paginya raja akan memanggil Abu Nawas untuk menghadap.
"Hai Abu Nawas, berani sekali kamu mempermainkan aku, bukannya unta tidak bertelur?" ujar sang raja yang kesal.
"Betul, Paduka," jawab Abu Nawas.

Mendengar itu, raja memerintahkan untuk memberikan hukuman berat kepada Abu Nawas.
"Tunggu, sebelum menghukum, bagaimana keadaan kesihatan Paduka?" tanya Abu Nawas.
"Aku baik, tubuhku tidak lemas dan tidak pegal lagi," jawab raja.
"Bermakna saya berjaya menyembuhkan paduka ya, dan saya berhak untuk mendapatkan hadiah sayembara itu," ujar Abu Nawas yang tersenyum dengan riang.

Site Meter