Halaman

Abu Nawas Menjuarai Lumba Berburu

Pada suatu hari yang cerah, Raja Harun Ar-Rasyid dan para pengawalnya berangkat memburu. Namun belum sampai rombongan ini di tempat tujuan, salah satu pejabat yang bernama Abu Jahil menyusul. Dengan nada termengah-mengah dia mencadangkan kepada sang raja agar acara memburu dihebahkan. Mendengar cadangan itu raja hanya mengangguk-anggukkan kepala saja.

"Hamba ingin beradu ketangkasan dengan Abu Nawas dan nanti pemenangnya akan mendapatkan sepundi emas. Tapi kalau kalah, hukumannya adalah memandikan kuda-kuda istana selama satu bulan," tutur Abu Jahil meyakinkan raja.

Mendengar peristiwa itu, sang raja langsung menyetujuinya, hitung-hitung perlumbaan itu akan memberikan hiburan kepadanya. Maka dipanggillah Abu Nawas untuk menghadap, untuk diberi petunjuk panjang lebar berkaitan lumba tersebut. Pada mulanya Abu Nawas menolak ajakan sayembara tersebut kerana ia tahu ini adalah akal-akalannya Abu Jahil untuk menyingkirkannya dari istana. Namun Raja memaksanya hingga Abu Nawas tak mampu menolaknya.

Ribuan Semut

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara kaki kuda Abu Nawas. Semua orang meneriakinya dan ketawa kerana kuda tunggangan Abu Nawas tidak membawa seekor haiwan buruan pun. Namun Abunawas tak kelihatan gusar sedikitpun, malah ia tersenyum dan melambaikan tangan.

Kemudian raja menyuruh dua orang pengawal untuk mengira jumlah binatang buruan yang didapatkan oleh kedua peserta. Kesempatan pertama, pengawal mengira jumlah haiwan buruan yang didapatkan oleh Abu Jahil.
"Ttiga puluh luma ekor arnab, titambah lima ekor rusa dan dua ekor babi huta. Total mendapatkan empat puluh dua haiwan buruan," kata pengawal yang mengira.
"Kalau begitu, akulah pemenangnya kerana Abu Nawas tak membawa seekor binatang pun," teriak Abu Jahil dengan sombongnya.

"Tenang .... tenang ..., aku membawa ribuan haiwan buruan. Jadi jelaslah aku pemenangnya, dan engkau wahai Abu Jahil, sila memandikan kuda-kuda istana. Menurut peraturan lumba, semua binatang boleh ditangkap, yang penting jumlahnya," kata Abu Nawas sambil membuka buluh kuning yang sudah diisi dengan ribuan semut merah.

"Jumlahnya sangat banyak Baginda, kami tak sanggup menghitungnya lagi," kata pengawal kerajaan yang mengira jumah semut itu.
Melihat kenyataan itu, tiba-tiba saja Abu Jahil jatuh pengsan. Baginda Raja Harun tertawa terbahak-bahak dan langsung memberi hadiah kepada Abu Nawas.

"Kecerdikan dan ketulusan hati pasti boleh mengalahkan kelicikan."

Abunawas tahu kalau Abu Jahil adalah pegawai istana yang kurang senang dengan keberadaannya. Ia pasti akan mengerahkan semua anak buahnya untuk menyumbang seekor binatang buruan di hutan nanti. Namun kerana kecerdikannya, Abu Nawas malah meladeni dengan senyuman. Abu Jahil yang melihat perubahan raut wajah Abu Nawas menjadi penasaran dibuatnya.
"Mana mungkin Abu Nawas boleh mengalahkannya kali ini," guman Abu Jahil dalam hati.

Pertandingan Bermula

Akhirnya baginda raja menggiring mereka ke tengah-tengah alun-alun istana. Raja dan selutuh rakyat menunggu, siapa yang akan bakal menjadi pemenang dalam lumba memburu ini. Terompet adu ketangkasan pun ditiup. Abu Jahil akan terus pergi secepat kilat menuju hutan belantara.

Anehnya, Abu Nawas justru sebaliknya, dia dengan santainya menaiki kudanya sehingga para penonton banyak yang berteriak. Menjelang sore hari, tampaklah kuda Abu Jahil memasuki gerbang istana, ia mendapat sambutan yang meriah dan tepuk tangan dari rakyat yang menyaksikannya.

Di sisi kanan dan kiri Abu Jahil tampak puluhan haiwan yang mati terpanah. Abu Jahil dengan tersenyum bangga memperlihatkan semua binatang buruan di tengah lapangan.
"Aku, Abu Jahil, berhak memenangi lumba ini. Lihatlah binatang buruanku banyak. Mana mungkin Abu Nawas mengalahkan aku?" teriaknya dengan lantang yang membuat para penonton semakin ramai bertepuk tangan.

Site Meter